Anak-anak Direkrut Jadi Tentara untuk Berperang di Yaman

Anak-anak Direkrut Jadi Tentara untuk Berperang di Yaman

Share

Pemberontak Houthi di Yaman dilaporkan merekrut tentara anak-anak untuk berperang dalam kancah perang saudara di negara itu.

Sebelumnya, pemberontak telah berjanji untuk menghentikan praktik itu sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dicapai dengan PBB pada April.

Namun, ratusan anak laki-laki telah direkrut dalam minggu-minggu sejak perjanjian itu ditandatangani. Demikian menurut laporan perwakilan Houthi, pekerja bantuan, dan warga sipil.

Sebuah video yang dirilis secara online baru-baru ini menunjukkan seorang pria mengajar anak-anak Yaman tentang bagian-bagian dari senapan militer.

Penduduk setempat mengkonfirmasi kepada kantor berita The Associated Press bahwa video itu direkam dalam beberapa minggu terakhir di daerah Amran yang dikuasai pemberontak.

Pejabat Houthi mengatakan mereka tidak melihat ada yang salah dengan praktik tersebut, dengan alasan bahwa anak laki-laki dari 10 atau 12 tahun dianggap pria dewasa.

Ini “bukan anak-anak. Mereka adalah pria sejati, yang harus membela negara mereka melawan Saudi, agresi Amerika,” kata seorang pemimpin Houthi. Dia berbicara kepada Associated Press dan minta dikutip serara anonim.

Pasukan Houthi telah menggunakan apa yang mereka sebut sebagai “kamp musim panas” untuk mengajarkan agama dan melatih pertempuran. Kamp-kamp semacam itu terjadi di sekolah-sekolah dan masjid-masjid di daerah Yaman yang dikuasai Houthi. Houthi menguasai wilayah utara dan tengah negara itu, serta ibu kota Sanaa.

Konflik Yaman dimulai pada 2014 ketika pihak Houthi mengambil alih Sanaa. Hal ini memaksa pemerintah untuk melarikan diri ke selatan. Pasukan militer yang dikomandoi Arab Saudi melibatkan diri pada awal 2015 dengan tujuan mengembalikan pemerintah ke tampuk kekuasaannya kembali.

Perang di Yaman adalah salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Perang ini telah menewaskan lebih dari 150.000 orang, termasuk lebih dari 14.500 warga sipil. Yaman nyaris mengalami kelaparan.

Menurut taksiran ahli PBB, tentara anak telah terlibat perang selama bertahun-tahun. Hampir 2.000 anak-anak yang direkrut pasukan Houthi tewas di medan perang antara Januari 2020 dan Mei 2021. Pasukan pro-pemerintah juga menggunakan pejuang anak tetapi jauh lebih sedikit. Pejabat bantuan PBB mengatakan pemerintah Yaman telah mengambil tindakan yang lebih besar untuk mengakhiri praktik tersebut.

Secara keseluruhan, PBB mengatakan lebih dari 10.200 anak tewas atau terluka dalam perang. Tetapi tidak jelas berapa banyak tentara anak yang tewas.

Pada bulan April, pemberontak menandatangani apa yang badan anak-anak PBB sebut sebagai “rencana aksi” untuk berhenti merekrut tentara anak. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan pemberontak berjanji untuk mengidentifikasi pejuang anak-anak dan membebaskan mereka dalam waktu enam bulan.

Laporan dari empat pekerja bantuan dengan tiga organisasi internasional yang bekerja di daerah yang dikuasai pemberontak menyebutkan mereka mengamati lebih banyak upaya pihak Houthi untuk merekrut anak-anak dalam beberapa pekan terakhir. Pasukan Houthi telah menderita banyak kerugian, terutama selama pertempuran hampir dua tahun untuk kota Marib.

Para pekerja bantuan mengatakan pemberontak telah menekan keluarga untuk mengirim anak-anak mereka ke kamp. Sebagai imbalannya, mereka diberi bantuan, termasuk makanan.

Dua penduduk di provinsi Amran mengatakan anggota Houthi datang ke rumah mereka pada Mei lalu. Mereka menyuruh mereka untuk mempersiapkan kelima anak mereka, yang berusia 11 hingga 16 tahun, untuk mengikuti kamp di akhir tahun ajaran.

Kemudian pada bulan itu, tambah mereka, anak-anak dibawa ke sekolah di Amran, tempat yang sama di mana video itu diambil.

Salah seorang ayah mengatakan bahwa dia diberitahu bahwa jika ia tidak bersedia mengirim anak-anaknya, keluarganya tidak akan lagi mendapatkan jatah makanan.

Seorang pemimpin Houthi mengunggah video pada awal Juni silam ketika dia mengunjungi salah satu kamp. Video itu menunjukkan puluhan anak berseragam berdiri dalam formasi seperti militer. Mereka menyatakan kesetiaan kepada pemimpin tertinggi gerakan pemberontak, Abdul-Malek al-Houthi.(AP/VOA/WAK)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.