Apa yang Dapat Membuat Anda Bahagia: Membaca, Dengar Musik, atau Main Gim?

Apa yang Dapat Membuat Anda Bahagia: Membaca, Dengar Musik, atau Main Gim?

Share

Hal apa yang membuat kita bahagia, apakah membaca atau mendengarkan musik lebih baik daripada menghabiskan berjam-jam bermain gim video?

“Banyak orang percaya media tradisional, seperti membaca buku atau mendengarkan musik, baik untuk kita,” kata pemimpin penelitian, Niklas Johannes, dari Universitas Oxford, seperti dikutip kantor berita UPI.

“Anehnya, kami tidak memiliki bukti yang baik apakah itu masalahnya. Faktanya, keyakinan bahwa media baru itu berbahaya tetapi media tradisional bermanfaat bisa jadi agak elitis,” tambahnya.

Untuk mempelajari lebih lanjut, Johannes dan rekan-rekannya melacak penggunaan media dari hampir 2.200 responden di Inggris selama dua bulan. Kebiasaan mereka kemudian dibandingkan dengan tingkat kecemasan dan kebahagiaan yang dilaporkan responden penelitian.

Responden melaporkan apakah mereka telah terlibat dengan musik, televisi, film, gim, buku, majalah dan/atau buku audio selama minggu sebelumnya dan berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk setiap aktivitas. Mereka juga melaporkan betapa bahagia dan/atau cemas yang mereka rasakan sehari sebelum setiap survei penelitian dilakukan.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang membaca atau mendengarkan buku audio tidak memperoleh peningkatan kebahagiaan dibandingkan dengan mereka yang tidak. Mereka juga tidak begitu cemas.

Pada saat yang sama, peserta yang menghibur diri dengan musik, TV, film dan/atau gim video tampaknya sedikit lebih bersemangat dan tidak bahagia dibandingkan mereka yang tidak melakukan hal-hal tersebut.

“Perbedaan itu sangat kecil — terlalu kecil untuk diperhatikan orang,” Johannes menekankan.

Para peneliti menyimpulkan media apa yang digunakan seseorang atau untuk berapa lama hanya sedikit atau tidak berpengaruh pada aspek kebahagiaan.

“Penelitian secara umum menunjukkan bahwa pengaruh media terhadap kesehatan mental kecil,” kata Johannes.

Namun, ia menunjukkan bahwa keterlibatan responden dengan penggunaan media sosial bukanlah salah satu kegiatan yang dianalisis oleh para peneliti.

Artinya, untuk saat ini, temuan harus ditafsirkan sebagai keterkaitan, katanya, daripada sebagai bukti sebab dan akibat.

James Maddux, seorang profesor emeritus psikologi di George Mason University di Fairfax meninjau temuan tersebut.

Dia berpendapat bahwa penelitian tersebut tidak membahas fakta bahwa kehidupan modern tidak begitu rapi terbagi antara teknologi lama dan baru. Maddux mencatat, misalnya, ketika dia membaca, 90% dia melakukannya di depan komputer.

Menggambarkan dirinya sebagai “salah satu sok elitis” yang lama percaya bahwa membaca buku adalah penggunaan waktu yang lebih baik daripada menonton TV atau bermain gim video, Maddux mengatakan temuan penelitian itu sebagai “sedikit mengejutkan.”

Dia menyarankan bahwa langkah selanjutnya mungkin bagi para peneliti untuk menyelami lebih dalam konten aktual dari media yang dikonsumsi, untuk melihat apakah apa yang diserap lebih penting daripada berapa lama mengkonsumsi media.

“Sebuah studi dari beberapa tahun lalu menemukan bahwa membaca apa yang sering disebut ‘fiksi sastra’ dapat meningkatkan kapasitas empati,” kata Maddux. “Jadi, mungkin juga penting jenis film dan serial apa yang ditonton orang,” sambungnya.(UPI/LIG)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *