Belajar Adab dari Situ Cisanti

Belajar Adab dari Situ Cisanti

Share

Air di Situ Cisanti di Kampung Pejaten, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung, berasal dari 7 mata air, yaitu Cikawedukan, Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, dan Cisanti.  Ada 6 mata air berada di hutan larangan di lereng Gunung Wayang. Sementara di sisi Barat, mata air Cisanti jadi tempat yang dikeramatkan warga sekitar. Dikeramatkan sebagai penghormatan terhadap leluhur. Konon asal mata air ini diyakini sebagai petilasan Prabu Siliwangi dan Dipatiukur.

Salah satu mata air Situ Cisanti mengalir di bawah akar Beringin ini.

Air tersebut diyakini berkhasiat dan bisa membuat siapa yang mandi di sana jadi awet muda. Namun untuk mandi atau sekedar membasuh muka, ada sejumlah aturan yang harus diikuti dan dijelaskan oleh kuncen.  Berada di lokasi ini pun pengunjung harus mematuhi kearifan lokal setempat.

Saat mandi, tidak diperkenankan tidak berpakaian sama sekali. Lelaki sekalipun harus menutup aurat, bisa menggunakan sarung saat mandi. Tidak boleh bersenda gurau. Tidak boleh pula berteriak teriak. Jarak tempat mandi antara pria dan wanita terpisah cukup jauh.

Sejumlah pengunjung, jogging menyusuri track di sisi Situ Cisanti.

Saat beada di sekitar lokasi situ Cisanti pun, pengunjung harus mematuhi aturan tertentu, seperti tidak boleh bersiul. Tidak boleh cawokah (bersenda gurau berlebihan). Pengunjung tidak boleh sompral (berkata menantang atau meremehkan).

Semua aturan tersebut semata pelajaran adab, agar kita bisa menahan diri dan tetap sopan santun dimanapun berada. Tentu saja tidak sekedar berada di lokasi. Saat pulang ke rumah, setidaknya hal ini menjadi pelajaran yang harus diteruskan, soal bagaimana memperlakukan diri sebagai manusia yang beradab dan juga bagaimana memperlakukan alam agar membawa maslahat.

Kemeriahan pengunjung di akhir pekan.

Begitupun adab terhadap air, tentu harus jadi pelajaran. Di Cisanti, mata air  yang mengalir dipelihara secara baik. Setiap hari daun-daun yang gugur dibersihkan agar tidak menyumbat aliran menuju danau. Pusat mata airnya hanya berupa kolam kecil sekira 5 X 8 meter, berada di bawah pohon beringin yang akarnya nampak cukup kuat.

Meski mengalir konstan, tidak pernah berhenti, karena dirawat dan dipelihara dengan baik, mata air di hulu Sungai Citarum tidak pernah menyebabkan banjir. Ini pula yang bisa menjadi pelajaran untuk kita yang tinggal di hilir, agar  merawat saluran-saluran air, tidak menyumbatnya dengan sampah baik langsung maupun tidak langsung.

Jogging track yang memanjang di pinggir Situ Cisanti.

Dengan merawat dan memperlakukan air secara seksama, semoga banjir bisa dikurangi. Ini hanya sedikit laku hidup meninggikan martabat air dan manusia, yang semoga bisa jadi bahan perenungan jelang Hari Air 22 Maret mendatang. (MIM)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *