Catatan Awal 2022: Radio Perlu Lebih ‘Dekat’ dengan Pendengar

Catatan Awal 2022: Radio Perlu Lebih ‘Dekat’ dengan Pendengar

Share

Berjalan sejak Februari 2020, saat Covid-19 mulai masuk Indonesia, radio nampak tertatih menapaki 2021. Belum memasuki Desember saja pada 2020, sudah banyak radio memangkas crew-nya. Ada yang memang karena penurunan iklan secara drastis. Ada pula yang semata mengamankan aset dengan cara berhemat.

Apapun bentuknya, semua sejatinya bisa dipahami, karena pada kondisi sulit, untuk survive selalu saja ada yang harus dikorbankan. Itu barangkali sudah hukumnya hidup. Hanya saja, pengurangan karyawan yang signifikan rupanya tidak berdampak pada perubahan on air.

Pada saat PSBB, sebenarnya radio bisa mengambil peran dengan menjadi teman saat mayoritas warga berada di rumah karena aturan yang mengharuskan mereka stay.

Menjadi teman bukan berarti sekedar memberikan hiburan. Kedekatan radio adalah denganjuga memberikan informasi yang terdekat dengan pendengarnya. Sayangnya, hal ini tidak banyak dilakukan para programmer radio.

Acara-acara hiburan masih lebih mendominasi, ketimbang informasi yang dibutuhkan pendengar semasa pandemi. Sementara radio berita pun cenderung hanya menjadi penyampai berita pemerintah soal update Covid-19. Padahal dampak yang paling dekat dengan pendengar seperti, bagaimana membangun usaha saat pandemi, daerah mana warga yang perlu bantuan pangan, info-info soal kebutuhan survival saat PSBB semua bisa jadi garapan radio.

Sampai saat ini, setelah memasuki tahun 2022, radio masih tertatih. Acara pun masih begitu-begitu juga. Padahal melihat masa jaya radio di tahun 70,80,90-an proximity adalah kata kunci yang tidak bisa ditawar.

Kedekatan budaya, kedekatan tradisi, kedekatan ekonomi, kedekatan update informasi, tu yang harus dikuatkan radio untuk bangkit pada saat pandemi ini perlahan mereda.

Sekelas radio network-pun sejatinya menyampaikan informasi yang paling dekat dengan kehidupan pendengar lokalnya. Tidak ada yang lebih penting soal informasi banjir di dekat pendengarnya di Bandung, ketimbang informasi macet di daerah Bekasi. Proximity menjadi informasi berharga yang di beberapa sisi bisa menjadi mitigasi pemandu aktifitas pendengarnya.

Kalaulah soal kedekatan-kedekatan tadi benar-benar diperhatikan kemungkinan kebangkitan radio di masa pandemi ini, akan bisa segera terwujud. (MIM/Penulis adalah praktisi penyiaran senior di Kota Bandung)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *