Film Genosida Muslim Ditayangkan Perdana di Serbia

Film Genosida Muslim Ditayangkan Perdana di Serbia

Share

Sebuah film tentang pembunuhan massal di Bosnia ditayangkan untuk pertama kalinya di depan umum di Serbia, baru-baru ini.

Film itu bertajuk Quo Vadis, Aida? Lebih dari 1.000 orang menontonnya selama dua kali penayangan, di Kota Novi Pazar. Film berkisah tentang pembantaian Srebrenica, di mana pasukan Serbia Bosnia membunuh sekitar 8.000 kaum Muslim di Srebrenica pada tahun 1995.

Husein Memic adalah direktur Pusat Kebudayaan yang menayangkan film tersebut. “Tiket terjual habis dalam satu setengah jam,” katanya. “Kami telah memohon agar film tersebut diputar di seluruh Serbia, bukan cuma di Novi Pazar.” tambahnya.

Novi Pazar adalah kota yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim.

Quo Vadis, Aida? dinobatkan sebagai Film Terbaik dalam Penghargaan Film Eropa 2021. Film ini juga dinominasikan untuk Film Asing Terbaik di Piala Oscar 2021.

Filmnya menceritakan kehidupan seorang wanita bernama Aida, yang merupakan penerjemah untuk PBB di kota kecil Srebrenica. Ketika tentara Serbia mengambil alih kota, keluarganya termasuk di antara ribuan orang yang mencari perlindungan di kamp PBB.

Aida diperankan oleh aktris Serbia Jasna Duricic. Dia adalah salah seorang anggota teater Nasional Serbia dari 1990 hingga 2005. The European Film Awards mendapuknya sebagai aktris dengan penampilan terbaik.

Film karya Jasmila Zbanic ini belum pernah ditayangkan secara publik di Republik Serbia yang otonom di Bosnia dan Herzegovina, di mana Srebrenica berada.

Republik Serbia menentang undang-undang Bosnia dan menyebutnya sebagai undang-undang ilegal sebagai upaya untuk menyangkal bahwa pembantaian kaum Muslim di Srebrenica adalah genosida.

Dua pemimpin penting Serbia Bosnia, termasuk mantan jenderal Ratko Mladic, dinyatakan bersalah melakukan genosida oleh Pengadilan Kriminal Internasional untuk eks Yugoslavia atas tindakan mereka dalam pembantaian Srebrenica. Mladic dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Zbanic mengatakan banyak bioskop di bagian lain Serbia dan di Republik Serbia Bosnia ingin menayangkan film tersebut. Tapi, ada ketakutan akan terjadinya serangan pembalasan.

Boris Isakovic, yang memainkan karakter utama dalam film ini menyatakan bahwa (pemutaran) film ini telah disensor.

“Tapi, itu malah makin menegaskan ihwal kekuatan karya film yakni sebagai senjata ampuh lewat mana kisah-kisah yang ada dapat diungkapkan ke hadapan publik.”(RTR/VOA/WAK)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *