Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri akhir November lalu menangkap seorang predator seksual anak berinisial S yang menjalankan aksinya melalui game online Free Fire. Kasubdit I Dittipidsiber Bareskrim Polri Reinhard Hutagaol mengungkapkan, pelaku mengiming-imingi dan memaksa para korbannya untuk melakukan video call sex (VCS).
Komisioner KPAI KPAI Retno Listiarti melalui rilis yang diterima Tepas.id Sabtu (4/11), menyampaikan keprihatinan atas kasus kejahatan cyber yang menimpa anak-akan usia 9-11 tahun dari aktivitas menggunakan game online, yang memungkinkan pelaku dapat mengakses nomor handphone atau nomor WhatsApp anak (korban). Disinlah anak sangat perlu didampingi orangtua dalam menlakukan komunikasi dengan orang asing di dunia maya. Anak-anak harus dibekali pengetahuan ketika menggunakan internet, media social, termasuk aplikasi game online.
Atas kasus ini, Retno mengapresiasi gerak cepat Kepolisian RI yang sudah berhasil mengungkap kasus ini dan menangkap terduga pelaku, bahkan sudah memerikasa 4 saksi dalam kasus ini.
Ia juga menambahkan, kekerasan seksual pada anak terjadi karena anak adalah pihak yang tidak berdaya, rentan menjadi korban manipulasi oleh iming-iming pelaku, dan masih membutuhkan orang dewasa untuk mengarahkan dan mengambil keputusan. “Dalam kasus ini iming-iming pelaku kepada anak korban adalah memberikan 500-600 diamond yang nilainya hanya sekitar Rp 100 ribu jika korban bersedia di foto telanjang. Diamond adalah alat transaksi dalam game untuk meningkatkan performa permainan,” ungkap Retno.
Retno juga mengatakan, korban sempat menolak ketika diminta berfoto telanjang, namun pelaku mengancam akan menghilangkan akun game korban sehingga korban tidak akan bisa main aplikasi game online Free Fire. “Ini adalah modus pelaku, jika tidak bisa dibujuk maka anak-anak usia 12 tahun ke bawah biasanya akan diancam, Karena korban tidak menceritakan ancaman itu kepada orang dewasa di rumahnya, maka ancaman itu pun berhasil dijakan alat bagi pelaku. Disinilah pentingnya mengedukasi dan mebiasakan anak berani berbicara speak up,” tegas Retno. (Ril/KPAI/RL/MIM)

Broadcaster radio senior, pecinta musik, fotografi dan trekking.
One thought on “Kasus Predator Seksual Anak Via Game Online, KPAI Minta Orangtua Dampingi Interaksi Anak di Dunia Maya”