Kelas Seni sebagai Ruang Eskapis bagi Siswa

Kelas Seni sebagai Ruang Eskapis bagi Siswa

Share

Kelas seni seperti melukis dan menggambar, serta kelas musik dan akting, menjadi wahana bagi para siswa untuk mengekspresikan diri mereka. Seni juga dapat menjadi ruang pelarian bagi para siswa dari ketegangan terkait aktivitas harian sekolah, atau bahkan kesulitan hidup mereka.

“Saya ingat siswa yang hanya merasa nyaman berada di ruang musik,” kata Gary Mayne. Dia mengatakan hal tersebut kepada organisasi nirlaba Music for All yang berbasis di Indianapolis, Indiana, Amerika Serikat.

Mayne adalah seorang ahli perilaku dan mantan guru musik. “Dan hal paling keren tentang apa yang kami lakukan adalah kami meminta anak-anak untuk duduk di sebuah ruangan dan mengekspresikan perasaan mereka melalui musik,” katanya.

Beberapa ahli mengatakan kelas seni menyediakan cara untuk mengajarkan pembelajaran sosial dan emosional. Pembelajaran sosial dan emosional berkaitan dengan menemukan cara bagi siswa untuk mengendalikan emosi mereka, memiliki hubungan dengan orang lain dan menunjukkan empati. Banyak sekolah menaruh banyak perhatian pada pembelajaran sosial dan emosional. Ini bisa jadi karena kesehatan mental siswa menjadi fokus perhatian, lebih-lebih setelah adanya pandemi virus corona.

Sarah Potpinka adalah guru seni di Putnam High School di Connecticut. Ketika kelas online berlangsung, dia meminta siswa fotografinya untuk mengambil gambar tentang bagaimana hidup mereka telah berubah. Siswa juga diminta membuat karya yang bereaksi terhadap pandemi. Banyak dari karya murid-muridnya “dipenuhi dengan kemarahan.” Demikian kata Potpinka kepada VOA.

Seorang siswa yang melihat sekolah sebagai pelarian dari kehidupan rumah tidak dapat meninggalkan rumah selama pandemi. Menurut Potpinka, melalui karya seni, mereka mampu mengekspresikan dirinya. Dan itu juga merupakan cara bagi para guru untuk melihat sejauh mana kondisi mental mereka, karena guru, selama pandemi, tidak terlalu sering mendengar kabar dari mereka.”

Potpinka menambhakan bahwa kelas seninya sering kali merupakan waktu bagi siswa untuk menurunkan ketegangan.

Dia mengatakan sekolahnya berada di bagian Connecticut yang memiliki lingkungan yang buruk. Banyak muridnya yang mesti merawat kerabatnya yang lebih muda atau bekerja paruh waktu untuk sekadar membantu keluarga mereka mendapatkan uang tambahan.

Potpinka lebih jauh menuturkan bahwa salah seorang siswa sekolah menengahnya baru-baru ini memiliki seorang anak dan memiliki kehidupan yang sulit, bahkan sebelum pandemi. Siswa tersebut memiliki minat yang kuat dalam merancang seni tato. Dia meminta bahan tato kepada Potpinka sehingga dia bisa mengerjakan gambar tato di luar jam sekolah.

“Dia dapat menyeimbangkan apa yang telah dia perjuangkan secara akademis, dengan beberapa kesuksesan lewat ruang seni,” kata Potpinka. “Senang melihatnya masih dapat mengerjakan sesuatu yang menjadi minatnya,” tambahnya.

Shawna Longo adalah guru musik senior di New Jersey. Dia mengatakan kepada Music for All bahwa musik adalah cara bagi siswa untuk bersenang-senang sambil mengeksplorasi kepribadian mereka.

Dia mengatakan bahwa dalam waktu bertahun-tahun, murid-muridnya mungkin tidak akan mengingat lagi nada dari sebuah lagu. Tetapi, mereka akan mengingat bagaimana perasaan mereka. Dan itu, bagi saya, adalah hal yang paling penting.(VOA/WAK)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *