Marketing Nomor Satu dalam Bisnis, Adalah Ramah

Marketing Nomor Satu dalam Bisnis, Adalah Ramah

Share

Siapa bilang waiter waitress rumah makan gak perlu belajar public speaking. Buktinya kalo Anda makan dan para crew rumah makannya ramah Anda senang kan?  Ini juga yang saya yakin semua orang pernah ngalamin. Jajan bolak balik, bukan melulu karena jajanannya enak, tapi karena  crew-nya ramah.

Keramah tamahan itu bisa muncul secara alamiah, karena memang orangnya komunikatif, atau dilakukan pembinaan oleh manajemen, yang sadar bahwa selain rasa, komunikasi para crew pemberi servis sangatlah penting. Tapi, diantara dua tadi, rasanya akan sangat luar biasa bila para crew servis tadi memang ramah dan komunikatif dari sononya, namun juga diberi pengetahuan komunikasi, agar selain alamiah, gaya komunikasinya, juga ‘ilimiah,’ artinya memiliki teori berkomunikasi dengan orang dari berbagai strata dan karakter.         

Temen saya, Rifki, salah satu penyiar TV di Bandung, saat dia punya warung makan ayam geprek pernah bercerita kalo ia butuh pegawai yang gak cuma bisa masak menu olahannya, tapi memiliki kemampuan berkomunikasi dengan para langganannya. Saya ngebayanginnya klo dia lagi siaran dan pegawai yang layani pelanggan yang udah sering datang, gak ramah, bisa kabur tuh pelanggannya warung si Rifki ini. Kacau kan?

That’s why peranan komunikasi dalam sebuah pemasaran, harus dilakukan bukan hanya saat dalam lobby marketing, tapi juga semua personil. Warung makan, resto, cafe bila semua crew di dalamnya menunjukan komunikasi yang baik pada siapapun tamu yang datang, saat kebetulan bersinggungan, berpapasan, ketemu di mushola, atau di manapun di lokasi bisnisnya, hal positif yang sangat dirasakan customer adalah keramah tamahan, kerna ia merasa diperlakukan sebagai orang yang bukan siapa-siapa lagi, seperti sudah dekat.

Owner sebuah cafe di kawasan Arcamanik Kota Bandung, tempat saya kadang ngamen, punya pendekatan yang sangat baik, membuat para tamu betah. Pak Suwarno, saya biasa panggil om Nono, sering saya ‘pergoki’ sedang menyapa para tamu yang datang. Bahkan beberapa kali saya lihat sedang ngobrol asyik dengan para customer, sambil menunggu makanan dan minuman yang dipesan, diantar waiter atau waitress. Ini menurut saya cara yang sangat jitu untuk memahami apa yang diinginkan customer.

Dengan mengobrol santai biasanya juga keluhan, masukan akan terlontar dari para tamu dengan santai dan dengan cara penyampaian yang lebih rileks. Tamu pun akan melihat sosok bos, sebagai kenalan yang baik dan ini akan mebuat pembelian berulang. Belum lagi diberikan bonus semisal harga khusus yang sedang berulang tahun, menu spesial tajil gratis saat pesanan berbuka puasa dengan pembelian rupiah tertentu saat Ramadhan dan beragam kenyamanan lainnya, tentu akan berimbas pada tersebarnya informasi pada khalayak.

Ingat di jaman globalisasi informasi ini, bila para waiter, waitress, cashier tidak memberi layanan yang ramah, dalam hitungan menit saja, perbuatan Anda sudah sampai di handphone orang se-alam dunia. Sebaliknya saat hal positif yang dibagikan, maka imbalannya customer akan terus berdatangan dan mereka akan berbagi cerita soal nyamannya jajan di tempat Anda.

Cuma jajan makanan aja yang begitu? Ya nggak lah.  ‘Jajan’ rumah, ‘jajan’ mobil,  dan jajan-jajan yang lain juga sama, guys. Pernah saya lihat sendiri customer sebuah bank, menarik semua tabungannya dan dipindahkan ke bank lain hanya karena saat mengambil uang tabungan, tanda-tangan di slip penarikan berbeda titik dengan yang di KTP. Ia ditegur teller bank dengan cara yang menurut customer bank tersebut tidak menyamankan. Akhirnya di slip yang selanjutnya, ia putuskan tarik semua uangnya dan ia pindahkan ke bank lain.

Pernah juga kan dengar kisah pengusaha dengan pakaian seadanya minta dilayani office boy, setelah sales yang melayaninya ia tolak, karena tidak ramah dan terkesan ogah-ogahan gara-gara pengusaha tersebut datang ke show room mobil itu dengan pakaian yang tidak menunjukan kesan orang berada. Penyakit kita sebagai manusia kadang sering melihat orang dari ‘penampakannya.’ Kalau tampilannya ok, kita layani, kalau seadanya, ya kita juga biasa-biasa. Padahal harusnya tidak begitu. Orang yang mengerti cara berkomunikasi yang baik pasti akan ramah pada setiap tamu, tidak peduli bagaimanapun penampilannya.

Intinya dalam sebuah bisnis yang bersinggungan langsung dengan customer, komunikasi sangatlah penting. Dengan kemampuan komunikasi maka kita akan mengetahui bangaimana cara yang tepat menghadapi konsumen dengan karakter yang beragam.

Yang lebih penting lagi mengkomunikasikan barang untuk dijual pada konsumen bukan berarti membujuk atau memaksa. Ini yang masih belum banyak dipahami oleh para marketing atau penjual jasa. Saya pernah kasi 1 bintang pada pengemudi transportasi online (gak saya sebut saya nama penyedia jasanya) karena memaksa saya membeli layanan non tunai mereka, sementara saya tidak mau, karena pernah merasa dirugikan.

Sayangnya, saat si driver menjelaskan bahwa yang saya alami adalah sistem dulu yang belum seaman sekarang, ia mejelaskan dengan bahasa-bahasa yang menyudutkan saya sebagai konsumen. Mau tidak mau saya report selain melalui aplikasi, juga melalui DM Twitter. Gak tega sih sebenarnya, hanya bila itu tidak dilakukan, maka siapa yang akan mengingatkan? Yang terjebak pada hal-hal seperti ini antara lain tele marketer. Kadang karena target, seringkali memaksa. (MIM)

Share
Gogo77
Adam77
Sonitoto
https://157.245.54.14/
Kaki777
Kaki777
Kaki777
Kaki777
Kaki777
Kaki777
Kaki777
Kaki777
Kaki777
Kaki777
Kaki777
https://mydaughtersdna.org/