Mengatasi Bencana Hidrologi Dengan Mengubah Mindset

Mengatasi Bencana Hidrologi Dengan Mengubah Mindset

Share

Kurang lebih satu bulan terakhir, hujan mulai turun dengan terus-menerus. Seperti biasa, saat musim hujan tiba banjir dan longsor terjadi. Di tahun ini  bahkan beberapa tempat yang sebelumnya tidak pernah terprediksikan banjir atau longsor, malah paling dulu terkena bencana tersebut.

Banjir di Sintang, Kalimantan Tengah, beberapa waktu lalu, termasuk yang mengagetkan. Sebelumnya kita belum pernah mendengar banjir  setinggi satu setengah meter sekalipun di tempat tersebut. Fakta bisa dicek melalui google, ketika diketikan  kata kunci banjir Sintang  ditambah tahun 2017, 2018 tau 2019, maka yang muncul tetap banjir tahun ini.

Garut sebagai wilayah yang berada di pegunungan, secara logika akan lebih rawan terkena longsor ketimbang banjir. Namun faktanya, Kecamatan Sukawening dihantam banjir bandang baru-baru ini.

Banjir di Garut terjadi kembali pada Kamis, 13 Januari kemarin, di Kecamatan Selaawi. Sampai pukul 21.00 WIB Kamis (13/01) BPBD setempat beserta Forkopinda merilis ada 5 dari 7 desa yang terdampak banjir. Selain itu tercatat ada beberapa titik longsor, rumah yang terendam dan sawah yang tersapu  banjir.

Curah Hujan yang Tinggi Selalu Kena Tuding

Setiap musim hujan tidak heran, setiap orang akan berteriak untuk mewaspadai terjadinya banjir. Peringatan tersebut pasti diembel-embeli karena curah hujan tinggi, maka dugaan akan muncul bahwa di daerah tertentu akan terjadi banjir atau longsor.

Kenapa curah hujan tinggi selalu ‘dituding’ merupakan penyebab banjir?  Bukankah berbagai karya ilimiah sudah menyatakan  bahwa 2/3 bumi ini adalah air. Tidak akan bertambah ataupun berkurang. Artinya hujan pun hanya siklus, di mana air yang ada di permukaan bumi diserap ke udara kemudian berproses menjadi hujan melalui pumpunan awan hujan. Jadi hujan tidak menyebabkan  jumlah air yang ada di muka bumi ini bertambah.

Yang harus jadi pertanyaan justru, mengapa air yang turun tidak mudah meresap ke dalam tanah? Anda yang pernah mengalami masa-masa di desa tahun 70 saja, sampai sekitar tahun 80-an. Saat hujan pasti melihat air memang menggenangi pekarangan rumah, jalanan, dan juga kebun. Tapi ingatkah Anda, bahwa air yang menggenang tadi tidak butuh watu lama untuk kembali meresap ke dalam bumi.

Saya masih ingat saat mewawancara Pakar Sumberdaya Air ITB, Prof. Indratmo Soekarno, yang mengatakan pola siklus air memang seharunya tidak menggenang di mana-mana. Sudah wataknya air bahwa setalah turun melalui hujan, ia akan meresap ke dalam bumi, sementara sisanya mengalir ke sungai untuk kemudian ke laut dan saat panas terik kembali diserap ke udara. Begitu seterusnya.

Infrastruktur Pengendali Banjir Sebenarnya Sudah Cukup

Kalaulah Pemerintah ikut dituding dengan alasan maintenance infrastruktur pengendali banjir tidak begitu baik, tidak juga sepenuhnya benar. Kita kesampingkan dulu infrastruktur besar seperti pintu air di aliran sungai besar, sarana irigasi dan  embung-embung shelter air.  Kita lihat bagaimana gorong-gorong sebenarnya sudah cukup baik dibangun, sejak dari pemukiman sampai riul besar di jalan-jalan utama sudah tertata dengan apik.

Setiap  beberapa puluh meter ada bak pengontrol yang tidak ditutup permanen. Fungsinya adalah untuk melihat dan mengevaluasi sejauh mana kelancaran aliran air sehingga bila terjadi sendatan bisa diperkirakan di titik mana. Hal tersebut untuk memudahkan penanganan ketersumbatan agar ketika hujan tiba tidak meluap ke jalan dan pemukiman.

Di kota-kota besar para penyapu jalan membersihkan sampah yang tercecer setidaknya setiap pagi, siang dan sore. Selain untuk menjaga kebersihan, hal ini bisa mengurangi tercecernya sampah yang kemudian masuk ke gorong-gorong sehingga menyebabkan ketersumbatan.

Setidaknya sebulan sekali, pintu-pintu air, waduk, embung-embung dan irigasi diperiksa dinas terkait di setiap kabupaten kota. Bahkan saat musim hujan seperti ini bisa jadi pengecekan dilakukan setiap saat oleh para petugas.

Masyarakat Abai Menjaga Alam

Secara kasat mata sebetulnya bisa dilihat, bahwa kita sebagai masyarakat menjadi salah satu pemicu  terjadinya bencana hidrologi. Bukankah kita pernah melihat, ketika hujan deras, sampah yang mengalir di sungai bukan sekedar plastik, sisa makanan atau daun kering saja. Kasur, dipan, bahkan sofa banyak yang dibuang ke sungai saat hujan tiba.

Tengoklah warga sekitar kita, saat hujan sering kali dimanfaatkan untuk menyapu halaman dan bebersih rumah. Sampah hasil bersih-bersih tersebut dihanyutkan ke selokan yang kemudian mengalir ke gorong-gorong, hingga tersumbat dan airnya mengalir ke jalan.

Sejumlah daerah hijau di dataran tinggi, bukan ditanami tanaman keras, melainkan dibuat lahan pertanian dengan tanaman yang sayur yang rapuh, sehingga ketika hujan turun air justru tidak meresap, melainkan membuat tanah menjadi gembur, sehingga rawan longsor.

Hutan yang seharusnya dilindungi, mulai dirambah baik secara illegal atau dibuka atas nama menambah devisa daerah atas nama pariwisata. Soal gundulnya hutan ini bahkan disinyalir Presiden Joko Widodo menjadi penyebab banjir di Sintang, Kalimantan Tengah.

Lebih dari itu, kesadaran menghijaukan lahan di kalangan masyarakat sudah mulai berkurang. Dulu di halaman kita masih menanam bunga. Kalaulah pekarangan agak luas, setidaknya ada satu pohon buah yang nyaman untuk berteduh. Saat ini kita lebih senang ‘menanam’ tembok atau paving blok di halaman. Inilah salah satu penyebab air kesulitan kembali meresap ke bumi selepas hujan.

Faktor-faktor inilah yang mustinya diintegrasikan penanganannya dengan kebijakan pemerintah dalam mengatasi banjir.

Mengubah Mindset Lebih Penting

Dengan faktor-faktor pemicu tadi, bukan berarti pemerintah harus menghukum mereka yang membuang sampah sembarangan. Tidak juga harus dengan menindak mereka yang menebang pohon dan lebih mementingkan luasnya tempat parkir untuk rumah atau sebuah tempat bisnis. Ya, hukum, aturan memang harus ditegakkan. Namun akan lebih mengena jika mindset masyarakat terus ‘digedor’ diingatkan. Kalau perlu ditakut-takuti (dengan fakta) bahwa tidakannya menanam kentang di lereng gunung akan membuat tanah semakin rapuh dan rentan terkena longsor.

Masyarakat harus diluruskan jalan fikirannya bahwa membuang sampah ke selokan bisa bermuara di sungai yang mengakibatkan aliran air tersumbat. Paling tidak, bila menyumbat gorong gorong di jalan utama, bisa meluap ke jalan dan banjirnya akan kembali ke kampung masyarakat.

Mengubah mindset bahwa menebang pohon, membuang sampah sembarangan, merusak lingkungan itu adalah perbuatan yang jahat, harus dikampanyekan sejak dari rumah, kemudian ke lingkungan tingkat RT, RW, Keluarahan, Kecamatan sampai tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi.

Untuk lebih massif, perlu juga hal ini dimasukan dalam kurikulum. Penilainnya tidak hanya soal  teori belaka, namun attitude juga menjadi bahan penilaian agar  soal menjaga lingkungan ini bisa ‘terdoktrin’ dengan baik.

Mengubah mindset untuk tidak merusak  dan mengotori lingkungan harus diyakini sebagai cara yang efektif, mengingat sejauh ini banjir dan longsor tidak cukup hanya soal mengalirkan atau memecah arus air. Masalah utama yang bersumber dari abainya masyarakat dalam  menjaga lingkungan harus sama-sama diperbaiki melalui edukasi yang massif. Karena tidak mungkin pemerintah bekerja sendiri, dan bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, bila kaum itu tidak mengubah nasibnya sendiri? (MIM)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *