Orang Pertama Terinfeksi COVID Kemungkinan Pedagang di Pasar Makanan Laut di Wuhan

Orang Pertama Terinfeksi COVID Kemungkinan Pedagang di Pasar Makanan Laut di Wuhan

Share

Orang pertama yang diketahui mengidap COVID-19 adalah seorang pedagang di pasar makanan laut di Wuhan, Tiongkok. Demikian klaim seorang ilmuwan Amerika yang temuannya berseberangan dengan kesimpulan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa pasien pertama adalah seorang akuntan yang tinggal bermil-mil dari pasar.

Michael Worobey, pakar dari University of Arizona, melacak evolusi virus, memeriksa sejumlah sumber informasi dan menemukan perbedaan dalam timeline WHO terkait awal pandemi.

Keterkaitan pedagang makanan laut dan analisis baru tentang koneksi pasien rawat inap paling awal yang ke pasar sangat menunjukkan di situlah pandemi dimulai, menurut Worobey, yang temuannya diterbitkan di jurnal Science, baru-baru ini.

“Di kota berpenduduk 11 juta orang ini, setengah dari kasus awal terkait dengan tempat sebesar lapangan sepak bola,” kata Worobey kepada koran The New York Times. “Menjadi sangat sulit untuk menjelaskan pola itu jika wabah tidak dimulai dari pasar,” sambungnya.

Sementara sejumlah ahli setuju dengan kesimpulan Worobey, beberapa mengatakan bahwa dia tidak memberikan bukti pasti tentang bagaimana pandemi dimulai.

“Saya tidak setuju dengan analisis tersebut,” kata Jesse Bloom, seorang ahli virologi di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson di Seattle, kepada The New York Times.

Studi genom virus — termasuk yang dilakukan oleh Worobey sendiri — menunjukkan bahwa infeksi pertama COVID-19 terjadi sekitar pertengahan November 2019, beberapa minggu sebelum pedagang pasar di Wuhan jatuh sakit.

Beberapa kalangan berpendapat virus kemungkinan menginfeksi berapa saat sebelum pedagang itu jatuh sakit, dan kemudian mulai menyebar luas di pasar.

Temuan Worobey ini akan menghidupkan kembali perdebatan tentang apakah pandemi tersebut disebabkan oleh transfer hewan ke manusia. Namun, kemungkinan itu tidak akan menyelesaikan masalah.

“Dia telah melakukan pekerjaan yang sangat baik untuk merekonstruksi apa yang dia bisa dari data yang tersedia, dan itu adalah hipotesis yang masuk akal,” kata Dr. W. Ian Lipkin, ahli virus di Mailman School of Public Health di Columbia University.

“Tapi saya rasa kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi, karena ini sudah dua tahun lalu dan masih belum jelas,” tambahnya.(NYT/UPI/WAK)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *