PBB: Polusi Lebih Mematikan daripada COVID

PBB: Polusi Lebih Mematikan daripada COVID

Share

Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa polusi menyebabkan lebih banyak kematian dini di seluruh dunia daripada pandemi COVID-19.

Sebuah laporan lingkungan PBB mengatakan, ”Polusi dan zat beracun menyebabkan sedikitnya 9 juta kematian dini, dua kali lipat jumlah kematian yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 selama 18 bulan pertama.”

PBB menyalahkan polusi yang dikeluarkan oleh negara dan perusahaan. Laporan tersebut menyerukan “tindakan segera dan ambisius” untuk melarang beberapa bahan kimia beracun.

Hasil dari laporan tersebut akan dipresentasikan ke Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada pertemuan bulan depan.

Pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia, David Boyd, merilis laporan itu Selasa (15/2/2022). Dia mengatakan bahwa cara negara-negara menangani “risiko yang ditimbulkan oleh polusi dan zat beracun jelas gagal, mengakibatkan pelanggaran luas terhadap hak atas lingkungan yang bersih, sehat dan berkelanjutan.”

Oktober lalu, Dewan Hak Asasi Manusia PBB memilih untuk mengakui hak atas lingkungan yang aman, bersih, sehat dan berkelanjutan sebagai hak asasi manusia. Resolusi tersebut, yang tidak memiliki kekuatan hukum, menambah daftar hak yang dianggap PBB sebagai hak asasi manusia.

Laporan itu mengatakan polusi dari pestisida, plastik dan limbah elektronik menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas. Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh serangga yang merusak tanaman.

Laporan itu juga mengatakan polusi menyebabkan setidaknya 9 juta orang di seluruh dunia meninggal lebih awal, atau prematur, setiap tahun, seeenatara virus corona menyebabkan sekitar 5,9 juta kematian.

Laporan tersebut mendesak larangan polifluoroalkil, zat manufaktur yang digunakan dalam produk rumah tangga seperti peralatan masak. Zat tersebut telah dikaitkan dengan kanker. Ini dianggap sebagai “bahan kimia selamanya” karena tidak mudah terurai di lingkungan.

Laporan itu juga menyerukan pembersihan tempat-tempat yang tercemar. Dalam kasus-kasus ekstrem, ia mendesak untuk memindahkan komunitas yang terkena dampak polusi. Ini termasuk kelompok miskin dan pribumi yang tinggal di apa yang disebut laporan itu sebagai “zona pengorbanan”.

Istilah itu pertama kali digunakan untuk menggambarkan daerah uji coba nuklir di mana orang tidak bisa lagi hidup. Maknanya diperluas dalam laporan untuk mencakup tempat yang sangat tercemar atau tempat di mana orang tidak dapat lagi hidup karena perubahan iklim.

Kepala HAM PBB Michelle Bachelet menyebut ancaman lingkungan sebagai masalah hak global terbesar.(RTR/LIG)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *