Pendekar Masa Kini Untuk Masa Depan Bangsa dan Negara

Pendekar Masa Kini Untuk Masa Depan Bangsa dan Negara

Share

Istilah “Pendekar” di Indonesia memang lebih sering dipopulerkan melalui cerita komik sampai film layar lebar, seperti yang kemudian munculnya tokoh legenda pendekar Si Pitung atau Andi, Si Buntung Jago Tutugan. Gambaran seperti itulah pendekar di benak  sebagian masyarakat sampai ada istilah lain seperti abang jago atau jawara yang melulu berurusan dengan adu fisik.

“Pandangan itu memang tidak salah, tapi ada yang lebih benar,” ujar Adhitiya Alam Syah (79) sebagai Penasihat Perkumpulan Pendekar Pencak Silat Indonesia saat dijumpai di jeda rakor perkumpulan pendekar tersebut di Sékéjéngkol, Cileunyi, Kabupaten Bandung awal September lalu. “Orang yang proaktif menyikapi situasi dan kondisi demi terjaganya lingkungan sekitar baik manusia atau pun alamnya dengan ikhlas, itulah pendekar,” lanjut pria yang akrab disapa Abah Alam ini.

Sejenak kita kembali ke masa-masa perjuangan revolusi  kemerdekaan kita dahulu. Di masa-masa itu pendekar punya peran besar. Di era perjuangan revolusi itu yang disebut tentara memang belum banyak dan para pendekar itulah yang mengisi kekurangannya.

Kita bisa melihat di berbagai Taman Makam Pahlawan dimana pun. Pada pusara makam-makam tersebut tidak sedikit yang bertuliskan nama saja tanpa pangkat. Bahkan banyak juga pusara yang bertuliskan “Tidak Dikenal”. “Mereka adalah para pendekar yang gugur dan diakui negara sebagai pahlawan,”  ujar sesepuh Kawargian ABAH Alam ini.

“Hendaknya dalam memperingati Hari Pahlawan setiap 10 November itu kita juga mengenang dan menghormati semangat kepahlawanan para pendekar yang rela mengorbankan jiwa-raganya demi kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini,” lanjut Abah.

“Kata Pendekar itu sendiri merupakan singkatan yang mencerminkan apa dan harus bagaimana pendekar,” tuturnya lagi, lalu Abah menjelaskan bahwa PENDEKAR itu terdiri dari huruf P yang berarti Proaktif, Pendekar itu bertindak tidak menunggu perintah. E kependekan dari Edukatif,  memahami perannya sebagai orang yang terdidik dan juga mau mendidik.

N itu Netral, pendekar tidak boleh memilliki keberpihakan dalam menegakkan kebenaran. D dari kata Dedikatif artinya dedikasi pendekar ditujukan untuk masyarakat, bangsa dan negara. E dari kata Elegan, setiap tidakannya senantiasa  menghadirkan simpati. K Kreatif dalam menyikapi berbagai permasalahan jaman. A berikut Aspiratif dan R dari kata Responsibility yang merangkum semua perilaku pendekar tersebut dapat dipertanggungjawakan.

“Kesemua itu merupakan silaturahmi yang didasari silih asih, silih asah dan siluh asuh. Silih asih ku pangarti hingga bisa saling memberi pengertian dan saling memahami, Silih asah ku pangabisa, saling mengasah keterampilan dan silih asuh ku pangaweruh dalam hal ilmu pengetahuan,” tutur Abah Alam.

Menurut Abah Alam, pendekar di era sekarang bisa berasal bukan dari perguruan pencak silat saja. “Tapi dari berbagai bidang ilmu dan profesi yang di dalam jiwanya tertanam kependekaran seperti singkatan tadi,” katanya.” Jiwa pendekar itulah yang kita perlukan di masa kini demi masa depan bangsa dan negara kita,” ujarnya. Di penghujuinga bincangan Abah Alam berharap bahwa kaum muda dapat menghormati dan mengenang kependekaran masa lalu dengan melestarikan semangat juang kepahlawan; mampu tampil di dengan dengan  jiwa dan semangat kependekaran apa pun keahlian dan profesinya. “Itu!” tegasnya. (AR/MIM)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *