Penelitian: Mereka yang Punya Risiko Kesehatan Mental Lebih Tertarik Tinggal di Kota

Penelitian: Mereka yang Punya Risiko Kesehatan Mental Lebih Tertarik Tinggal di Kota

Share

Orang-orang yang secara genetik cenderung mengalami gangguan kesehatan mental seperti skizofrenia, gangguan bipolar, dan anoreksia nervosa lebih suka tinggal di daerah perkotaan ketika dewasa. Begitu hasil sebuah studi yang dipublikasikan di JAMA Psychiatry menyebutkan.

Data penelitian menunjukkan mereka yang memiliki risiko genetik lebih tinggi untuk gangguan ini adalah 5% hingga 10% lebih mungkin untuk “lebih suka pindah” dari daerah pedesaan ke perkotaan saat dewasa.

Artinya, orang dengan lebih banyak mutasi genetik yang meningkatkan risiko masalah kesehatan mental cenderung tertarik ke lingkungan perkotaan. Yang signifikan, menurut para peneliti, adalah bahwa hidup lama di kota telah dikaitkan dengan peningkatan risiko skizofrenia.

“Studi ini menambah bukti terhadap dikotomi sifat sederhana versus dikotomi pengasuhan, dan menunjukkan bahwa gen dan lingkungan saling berkorelasi,” kata salah seorang peneliti, Dr. Evangelos Vassos kepada kantor berita UPI.

“Ini menunjukkan bahwa kecenderungan genetik untuk berbagai kondisi kesehatan mental dikaitkan dengan tempat tinggal orang,” jelas Vassos, yang merupakan konsultan psikiater di King’s College London.

Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2017 menemukan bahwa remaja yang dibesarkan di lingkungan perkotaan hampir 70% lebih mungkin memiliki pengalaman psikotik, seperti yang terkait dengan skizofrenia, dibandingkan dengan mereka yang tumbuh di daerah pedesaan.

Untuk penelitian ini, Vassos dan rekan-rekannya menganalisis data pada hampir 386.000 orang dewasa Inggris berusia 37 hingga 73 tahun yang berpartisipasi dalam Biobank Inggris, yang memuat ringkasan catatan kesehatan dan informasi genetik untuk ratusan ribu orang.

Data menunjukkan mereka dengan skor risiko poligenik yang lebih tinggi untuk skizofrenia dan anoreksia nervosa adalah 5% lebih mungkin untuk pindah ke kota-kota dari daerah pedesaan.

Demikian pula, peserta dengan skor risiko lebih tinggi untuk gangguan bipolar, suatu kondisi yang ditandai dengan periode depresi dan suasana hati yang meningkat secara tidak normal, 10% lebih mungkin untuk tinggal di daerah perkotaan.

Sebaliknya, mereka yang memiliki kecenderungan genetik untuk gangguan hiperaktivitas defisit perhatian 9% lebih kecil kemungkinannya untuk memilih tinggal di kota daripada di daerah pedesaan.

“Hipotesis kami adalah bahwa orang dengan risiko genetik tinggi atau rendah untuk gangguan kejiwaan mungkin memiliki karakteristik halus yang berbeda dari orang dengan risiko genetik rata-rata,” kata Vassos.

Jadi, “tidak sesederhana memberi tahu orang-orang bahwa mereka perlu pindah dari kota ke lingkungan yang lebih ndeso untuk meningkatkan kesehatan mental mereka,” urainya.(UPI/LIG)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *