Penurunan Besar Kasus Corona di Jepang, Apa Penyebabnya?

Penurunan Besar Kasus Corona di Jepang, Apa Penyebabnya?

Share

Banyak negara di dunia sedang menghadapi wabah virus corona pada level mencemaskan. Namun di Jepang, kondisinya berbeda. Di Negara Sakura ini, jumlah kasus infeksi COVID-19 sangat sedikit. Padahal, sebelumnya, cukup mengkhawatirkan. Kematian terkait COVID dilaporkan setiap hari. Rumah sakit dipenuhi pasien corona.

Pada bulan September 2021 lalu, Jepang mempercepat kampanye vaksinasinya. Hasilnya, negara ini mengalami penurunan besar dalam jumlah kasus yang dilaporkan. Jumlah kematian juga menurun tajam.

Sejak itu, situasi terus membaik. Pada bulan Desember 2021, Jepang telah melaporkan rata-rata kurang dari satu kematian COVID-19 sehari. Itu adalah angka yang sangat rendah untuk negara berpenduduk 126 juta orang. Tidak ada yang tahu persis mengapa Jepang mengalami kesuksesan seperti itu.

Ada banyak kemungkinan penjelasan. Hampir 80 persen penduduk Jepang telah divaksinasi lengkap. Hampir semua orang disiplin memakai masker. Dan, bahkan setelah pemerintah mengakhiri beberapa pembatasan aktivitas di musim gugur, orang-orang terus menjaga jarak secara sosial.

Beberapa peneliti merujuk pada rendahnya tingkat obesitas di Jepang. Serangkaian penelitian terbaru menemukan bahwa COVID-19 lebih parah pada individu yang kelebihan berat badan.

Kebiasaan budaya juga dapat berperan dalam penyebaran COVID. Misalnya, orang Jepang umumnya tidak berciuman, berpelukan, atau bahkan berjabat tangan saat bertemu. Ini sangat membantu menghindari penularan virus.

Banyak orang Jepang juga diam di tempat umum. Begitu kata Kentaro Iwata, spesialis penyakit menular di Universitas Kobe Jepang.

“Bermasker dan diam di tempat umum sangat penting untuk memerangi virus. Semua orang mengetahuinya, tetapi mempraktikkannya bisa sangat sulit di beberapa bagian dunia, mungkin karena alasan budaya,” papar Iwata kepada VOA melalui e-mail.

Namun, alasan-alasan itu tidak menjelaskan mengapa Korea Selatan di dekatnya menghadapi wabah COVID-19 yang parah. Padahal, Korea Selatan memiliki banyak kebiasaan budaya yang sama dengan Jepang.

Penjelasan lain yang mungkin adalah bahwa Jepang menguji lebih sedikit orang daripada negara lain, kata Kenji Shibuya. Dia adalah seorang ahli epidemiologi dan peneliti di Tokyo Foundation for Policy Research.

Menurut data pemerintah, pada paruh pertama Desember 2021, Jepang menguji rata-rata 44.623 orang per hari, menurut data pemerintah. Korea Selatan, yang populasinya kurang dari setengah populasi Jepang, melakukan rata-rata 238.901 tes sehari selama periode yang sama.

“Karena kurangnya pengujian di Jepang, sulit untuk percaya bahwa jumlah kasus resmi mewakili kenyataan,” jelas Shibuya.

Namun, jika kurangnya pengujian adalah alasannya, Jepang kemungkinan akan mengalami peningkatan jumlah rawat inap atau kematian.

Karena tidak ada penjelasan yang jelas, beberapa peneliti mencoba mencari apa yang disebut faktor-X. Satu penelitian bahkan menyimpulkan banyak orang Jepang memiliki fitur genetik yang terkait dengan sel darah putih yang membantu melawan COVID-19. Yang lain berpikir bahwa versi virus corona yang menyebar di Jepang mungkin telah banyak berubah sehingga virus itu akhirnya menghilang.

Jepang mengidentifikasi kasus pertama penyebaran virus versi omicron di kalangan masyarakat. Para ilmuwan mengatakan omicron menyebar jauh lebih cepat daripada versi virus sebelumnya. Para pejabat mengatakan banyak dari mereka yang terinfeksi omicron di Jepang tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri baru-baru ini.(VOA/LIG)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.