Sirine Buka Puasa di Gerbang Peninggalan Sejarah Plengkung Gading

Sirine Buka Puasa di Gerbang Peninggalan Sejarah Plengkung Gading

Share

Di Yogyakarta ada 5 Plengkung yang dibangun sebagai Gerbang Keraton Yogyakarta. Salah satunya yang terkenal adalah Plengkung Nirbaya, yang lebih dikenal dengan Plengkung Gading. Kebetulan pula Plengkung Nirbaya berada di Jl. Gading, sekira 300 meter dari Alun-Alun Selatan Yogyakarta.

Penamaan Plengkung Gading dengan sebutan Nirbaya, tidak sekedar nama. Nirbaya memiliki makna jauh dari mara bahaya duniawi. Nama ini tidak main-main. Diyakini nama ini membawa dampak pada aura yang ada di sekitar Plengkung Gading. Secara turun temurun, masyarakat setempat mempercayai bahwa mereka yang memiliki ilmu hitam, jika melintas di sini, maka ilmunya akan hilang.

Plengkung Gading juga menjadi perlintasan para Raja Yogyakarta yang sudah wafat. Sementara Sultan yang masih hidup, tidak diperkenankan melintasi Plengkung Gading. Karena khusus untuk melintas jenazah raja yang wafat, untuk menuju pemakaman para Raja Yogya di Imogiri, jenazah rakyat biasa tidak diperkenankan melintas di sini.

Di sisi kiri atas bangunan ada Menara yang di ujungnya terdapat 3 pengeras suara berbentuk terompet memanjang. Menara ini masih berfungsi. Terompet di atasnya adalah pengeras suara untuk bunyi sirine. Sirine dibunyikan hanya untuk penanda waktu berbuka puasa saja selama Ramadhan. Bagi warga luar kota Yogya, saat dibunyikannya sirine menjadi atraksi tersendiri.

Biasanya, petugas yang membunyikan sirine, berpakaian tradisional. Sirine dibunyikan sekira satu menit. Beberapa hari lalu, saat sirine dibunyikan bahkan menarik perhatian sejumlah wartawan media elektronik nasional sebagai bahan peliputan.

Selain pada Bulan Ramadhan, sirine ini dibunyikan pula satu tahun sekali, pada peringatan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus. Sirine dibunyikan seiring dengan seremoni peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Karena memiliki nilai sakral dan bersejarah, sesiapa yang ingin berfoto di Plengkung Gading, harus menjaga etika. Berfotolah sewajarnya, di tempat yang biasa dilalui masyarakat. Tidak diperkenankan berpose dengan memanjat plengkung, seperti yang sempat viral dilakukan dua remaja beberapa waktu lalu. Peristiwa tersebut menjadi viral dan mendapat kecaman tidak hanya dari Keraton Yogyakarta, melainkan juga masyarakat Yogya.  (MIM)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *