Terinspirasi Bunglon, Ilmuwan Bikin Kulit Sintetis yang Bisa Berubah Warna untuk Deteksi Kesegaran ‘Seafood’

Terinspirasi Bunglon, Ilmuwan Bikin Kulit Sintetis yang Bisa Berubah Warna untuk Deteksi Kesegaran ‘Seafood’

Share

Sekelompok ilmuwan telah menciptakan jenis kulit sintetis baru yang menggunakan luminogen dan struktur bilayer yang bisa berubah warna seperti halnya yang terjadi pada bunglon, sebagai respons terhadap lingkungan.

Kulit sintetis tersebut, yang dipaparkan di jurnal Cell Reports Physical Science, baru-baru ini, dirancang untuk mendeteksi kesegaran makanan laut (seafood). Meski demikian, teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai aplikasi.

Sebagian besar kulit sintetis yang bisa berubah warna dibentuk oleh matriks lapisan tunggal dari molekul peka cahaya yang berbeda.

Untuk material, para peneliti melengkapi dua lapisan hidrogel — inti dalam dan kulit terluar — dengan luminogen, molekul yang menyebabkan kristal berpendar.

“Tata letak cangkang inti yang baru ini tidak memerlukan pilihan pasangan luminogen yang cermat, juga tidak memerlukan desain dan regulasi yang rumit dari interaksi fotofisika yang kompleks antara luminogen yang berbeda,” kata salah satu penyusun penelitian, Tao Chen, dalam siaran persnya, yang dikutip kantor berita UPI.

“Ini penting untuk konstruksi masa depan sistem material multiwarna yang kuat dengan kinerja yang belum tercapai,” kata Chen, yang merupakan profesor di Institut Teknologi dan Teknik Material Ningbo di Akademi Sains Tiongkok.

Dengan mengatur luminogen menjadi dua lapisan yang berbeda, para peneliti dapat mencapai rangkaian pola dan perubahan warna yang lebih kompleks.

Sejumlah ilmuwan lainnya menyarankan struktur inti-cangkang material dibuat agar lebih mirip dengan desain kulit bunglon yang sebenarnya.

Para peneliti mengatakan mereka memperkirakan proses desain dapat disesuaikan untuk menciptakan bahan yang mampu menghasilkan berbagai jenis perubahan warna dan pola.

Untuk menguji teknologinya, para peneliti membuat kemosensor dari bahan bilayer. Kemosensor dirancang untuk bereaksi terhadap uap amina yang dilepaskan oleh mikroba pada saat seafood kehilangan kesegarannya.

Untuk mengujinya, para ilmuwan menyimpan potongan-potongan bahan hidrogel baru dalam kantong berisi udang beku.

Saat disimpan pada suhu minus 10 Celcius, warna strip tetap merah, menandakan udang masih segar. Saat disimpan pada suhu 30 derajat Celcius, irisan tersebut perlahan berubah menjadi hijau, menandakan udang telah membusuk.

Selain untuk mendeteksi pembusukan makanan laut, bahan hidrogel bilayer tersebut dapat digunakan untuk membuat piranti elektronik yang dapat direnggangkan, robot lunak, atau bahkan teknologi penyaruan.

“Dalam waktu dekat, kami berencana untuk memanfaatkan hidrogel inti-cangkang mirip kulit bunglon yang dikembangkan untuk menyiapkan kulit penyamaran lembut biomimetik, yang dapat digunakan untuk meniru beragam fungsi pengubah warna kulit organisme hidup dan untuk membantu mewujudkan kamuflase aktif, serta fungsi tampilan dan fungsi perlindungan pada robot, ” jelas Chen.(UPI/LIG)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *