Tidur Terlalu Lama Kemungkinan Bisa Ganggu Kemampuan Kognitif

Tidur Terlalu Lama Kemungkinan Bisa Ganggu Kemampuan Kognitif

Share

Kurang tidur dapat meningkatkan risiko gangguan aktivitas otak, atau penurunan kognitif, serta penyakit Alzheimer. Namun, terlalu banyak tidur kemungkinan berisiko yang sama.

Para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis, Missouri, melakukan kajian ihwal lama tidur. Hasil temuan mereka diterbitkan dalam jurnal Brain edisi September.

Studi tersebut meneliti 100 orang dewasa dan memantau kemampuan kognitif dan kemampuan berpikir mereka selama rata-rata 4,5 tahun. Usia rata-rata subjek penelitian adalah 75 tahun. Delapan puluh delapan dari kelompok telah diidentifikasi sebagai bebas dari gangguan kognitif, atau kerusakan otak. Sebelas subjek dinilai mengalami gangguan sangat ringan, dan satu orang diidentifikasi sebagai gangguan ringan.

Selama penelitian, mereka diminta untuk menyelesaikan beberapa tes untuk tanda-tanda penurunan kognitif. Tes digabungkan menjadi skor kognitif. Mereka juga memakai perangkat electroencephalography (EEG) selama empat sampai enam malam untuk mengukur aktivitas otak mereka selama tidur.

Secara keseluruhan, skor kognitif menurun untuk kelompok yang tidur kurang dari 4,5 jam dan mereka yang tidur lebih dari 6,5 jam per malam — yang diukur dengan EEG. Tapi, skor kongnitif tetap sama pada mereka yang tidur tidak kurang dari 4,5 jam dan tidak lebih dari 6,5 jam.

“Studi kami menunjukkan bahwa ada rentang tengah, atau ‘titik manis’, untuk total waktu tidur” untuk kinerja kognitif terbaik, kata Dr. Brendan Lucey, direktur Pusat Pengobatan Tidur Universitas Washington, yang memimpin penelitian.

“Waktu tidur yang pendek dan panjang dikaitkan dengan kinerja kognitif yang lebih buruk, mungkin karena kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk,” tambah Lucey.

Greg Elder,peneliti tidur di Universitas Northumbria di New Castle, Inggris, menyatakan terkejut dengan temuan bahwa tidur lebih dari 6,5 jam dikaitkan penurunan kognitif. Padahal, selama ini orang dewasa yang lebih tua disarankan untuk tidur antara tujuh dan delapan jam setiap malam.”

Elder juga mencatat bahwa penelitian tersebut tidak mempertimbangkan informasi lain tentang individu yang harus diteliti, termasuk kesehatan umum atau kondisi ekonomi mereka.

Penelitian lain menunjukkan bahwa kurang tidur terkait dengan penurunan kognitif. Sebuah studi kecil tahun 2018 yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa kehilangan hanya satu malam tidur menyebabkan peningkatan produksi beta-amiloid. Beta-amiloid adalah produk sisa metabolisme yang ditemukan di antara sel-sel otak. Zat ini telah lama dikaitkan dengan gangguan otak, seperti penyakit Alzheimer.

National Sleep Foundation menyarankan bahwa orang dewasa yang sehat membutuhkan antara tujuh dan sembilan jam tidur per malam. Bayi, anak kecil, dan remaja membutuhkan lebih banyak tidur untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka. Dan orang yang berusia di atas 65 tahun juga harus mendapatkan tujuh hingga delapan jam per malam.

Satu pertanyaan yang belum terjawab dari studi Universitas Washington adalah apakah meningkatkan waktu tidur untuk orang yang tidur pendek akan membantu kinerja kognitif mereka.

Menurut Lucey, kebutuhan tidur setiap orang berbeda. Jika orang merasa nyaman, tidak perlu mengubah cara mereka tidur. “Tetapi mereka yang kurang tidur harus tahu bahwa masalah sering kali dapat diobati,” kata Lucey.

Dr. David Holtzman, peneliti lainnya yang terlibat dalam studi tersebut, menambahkan, “Ini menunjukkan bahwa kualitas tidur mungkin menjadi kuncinya, bukan hanya soal total lama tidur.”(VOA/KEM)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *